infoazka@gmail.com
Kavling Bermis Blok B3 RT 07 RW 04 Kel. Cisauk Kec. Cisauk Tangerang

ENVIRONMENTAL PROTECTION MANAGEMENT

Filsafat Gus Dur
Home » Uncategorized  »  Filsafat Gus Dur
Filsafat Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

  1. “Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian manusia, dia masih hamba yang amatiran.”
  2. “Tidak penting apapun agama atau sukumu.
    Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak tanya apa agamamu.”
  3. “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin tinggi toleransinya.”
  4. “Agama mengajarkan pesan-pesan damai. Tapi ekstrimis memutar balikannya.
    Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah.”
  5. “Perbedaan itu fitrah.
    Dan ia harus diletakkan dalam prinsip kemanusiaan universal.”
  6. “Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan penciptanya.”
  7. “Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan.”
  8. “Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama dengan kamu, berarti yang kamu pertuhankan itu bukan Allah, tapi Agama. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar moral, berarti yang kamu pertuhankan bukan Allah, tapi moral. Pertuhankanlah Allah, bukan yang lainnya. Dan pembuktian bahwa kamu mempertuhankan Allah, maka kamu harus menerima semua makhluk. Karena begitulah Allah.”
  9. “Sebenar apapun tingkahmu, sebaik apapun perilaku hidupmu, kebencian dari manusia itu pasti ada. Jadi jangan terlalu diambil pusing. Terus saja jalan.”
  10. “Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, sebaiknya diterima karena itu bukan sesuatu masalah.”
  11. “Tuhan tidak perlu dibela, Dia sudah Maha segalanya. Belalah mereka yang diperlakukan tidak adil.”
  12. “Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan, Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.”
  13. “Kepemimpian yg baik dapat membawa hasil yang baik tanpa banyak menumpahkan darah.”
  14. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”
  15. “Marilah kita bangun bangsa dan kita hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan kita, yang tidak boleh kita lupakan sama sekali.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *