BUDI PEKERTI IALAH SENJATA YANG TAJAM

BUDI PEKERTI IALAH SENJATA YANG TAJAM

Suatu kisah pengalaman pribadi dari Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa yang beliau ceritakan dalam suatu majlis ilmu. Ada seorang jamaah dari daerah Tanjung Periuk Jakarta, sebut saja namanya bapak Iman (nama samara), ingin mengadakan kajian ilmu di suatu mushola dengan pengisi kajian Habib Munzir. Namun pak Iman tersebut merasa tidak berani izin kepada seseorang yang menguasai daerah tersebut. Seseorang tersebut dikenal sebagai preman yang kuat dan disegani di daerah Tanjung Periuk.

Sosok preman pun diceritakan oleh pak Iman kepada Habib Munzir, sosoknya yang kasar, beringas dan kebal peluru membuat orang-orang di Tanjung Periuk tidak ada yang berani berurusan masalah dengannya. Hingga tidak ada yang berani menegur apalagi mencegah setiap tindakan kasarnya di Tanjung Periuk.

Keluh kesah pak Iman perihal perizinan akhirnya disampaikan kepada Habib Munzir untuk mendapat solusi. Habib Munzir menyuruh pak Iman untuk meminta izin langsung ke kediaman preman dan mencium tangannya, mengingat umurnya yang sudah tidak muda lagi. Pak Iman mendengar solusi dari Habib Munzir tersebut, merasa ragu dan tak yakin akan diberi izin.

Namun Habib Munzir tetap menganjurkan agar solusinya segera dilakukan. Pak Iman pun tidak memiliki solusi lainnya, akhirnya ia beranikan diri untuk ke rumah preman tersebut demi terselenggaranya kajian bersama Habib Munzir. Sampainnya di depan pintu rumah preman tersebut, Pak Iman sudah merasa keringat dingin, perasaanya penuh was-was khawatir saat mengutarakan maksud tujuannya, ia akan dibentak atau diperlakukan secara kasar.

Tak lama menunggu preman yang diseganipun keluar dari rumahnya dan setelah mengucap salam seketika pak Iman mencium tangannya dan mengutarakan maksud tujuannya “mohon maaf pak… kedatangan saya mau minta izin untuk mengadakan pengajian di Mushola yang akan diisi oleh Habib Munzir, sekiranya bapak bisa memberi izin kepada kami untuk mengadakan pengajian” tutur Pak Iman dengan rasa grogi.

Mendengar maksud tujuan pak Iman dan prilakunya yang mencium tangan, membuat sang preman luluh dan tersedu haru. “baru pertama kali saya didatangi orang yang mau menghampiri rumah saya hanya karena ingin izin mengadakan pengajian di mushola. Rumah ini hanya didatangi oleh orang-orang bajingan yang menyuruh saya untuk memukul orang atau menjadi keamanan” Jelas sang Preman.

Pak Iman mendengar tanggapan sang preman pun seketika mulai tenang, tanda lampu hijau mendapat izin sesuai harapan. Sang Preman bersedia mengawal kedatangan habib dan menjaga pengajian saat berlangsung. Mendapat kabar baik mendapat izin, pak iman lekas menyampaikan dan siap menyebarkan info kajian Habib Munzir di daerah Tanjung Priuk.

Singkat cerita saat hari H, Habib Munzir tiba di Mushola, Pak Iman menunjukkan sang Preman kepada Habib Munzir. Terdapat hal tidak terduga yang telah dilakukan oleh Habib Munzir, beliau mendekat ke sang preman mengucap salam dan mencium tangannya. Sontak membuat sang preman terkejut dan terheran-heran “bib, ko anda mencium tangan saya, anda kan orang baik, saya ini orang jahat!” tanya sang preman. “loh emang kenapa? Kan anda lebih tua dari saya, jadi saya menghormati anda” jawab Habib Munzir.

Budi Pekerti Habib Munzir tersebut membuat nangis dan meluluhkan hati sang preman. Ia tidak menyangka dirinya yang penuh dosa, berprilaku kasar dan ditakuti karena keberingasannya, Sosok Habaib mau dengan tulus mencium tanganya. Lekas hidayah pun turun kepada sang Preman, dulunya ia mengajak mabuk-mabukan, berjudi dan membuat onar. Kini ia melarang kebaradaan pesta miras, judi dan menjadi pelindung masyarakat yang juga disegani.

Cerita Habib Munzir di atas menggambarkan betapa tajamnya budi pekerti yang baik, mampu mendatangkan hidayah kepada sosok preman yang arogan. Dakwahnya dengan akhlak mulia mampu melenturkan kekerasan hati dan prilaku sang preman. Maka akhlak dalam diri manusia sangat penting untuk dilatih dan dibentuk, agar menjadi pribadi muslim yang bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *