Cara Rasulullah Membaca Al-Quran

Cara Rasulullah Membaca Al-Quran

Bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk memperbanyak membaca Al-Quran, karena setiap huruf dalam Al-Quran yang dibacakan, Allah akan melipat pahala untuk hambanya.

Pemandangan tadarus Al-Quran di Masjid, Mushola, dan Pesantren banyak kita lihat di bulan Ramadhan. Namun untuk Ramadhan tahun 2020 kali ini, Allah SWT Berkehendak lain, semua kegiatan keagamaan hanya bisa dilakukan dirumah bersama keluarga.

Menurut Rasulullah SAW Al-Quran akan menjadi syafaat bagi pembacanya, sebagaimana haditsnya : “Bacalah al-Qur’an itu, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi para pembaca lainnya.” (Imam Muslim). Saat membaca Al-Quran, para ulama telah memberitahu berbagai adab-adab membaca Al-Quran yang perlu diperhatikan dan diamalkan oleh setiap muslim. Karena kedudukan adab itu diatas ilmu, sebab ilmu tanpa adab berkurang atau hilanglah keberkahan ilmu.

Mari kita mengikuti cara Rasulullah SAW membaca (melafalkan) ayat suci Al-Quran. Terdapat beberapa keterangan hadist yang terkumpul dalam kitab Asy-Syamail Al-Muhammadiyyah (Imam At-Tirmidzi), berikulah cara-cara Rasulullah SAW membaca Al-Quran:

Pertama, Rasulullah membaca Al-Quran dengan jelas. Setiap kata per kata, huruf per huruf Rasulullah mengucapkannya sangat jelas dan terang. Sehingga tidak ada satu kata atau kalimat pun yang terdengar samar ketika Rasulullah SAW membacanya.

Kedua, membaca panjang dan pendek setiap huruf Al-Quran dengan benar, sebagaimana kaidah ilmu tajwid yang ada saat ini. Karena di zaman Rasulullah tidak ada yang namanya ilmu tajwid, ilmu ini dikembangkan oleh para ulama di generasi awal islam. Intinya, disaat kita membaca Al-Quran mampu sesuai dengan kaidah ilmu tajwid, berarti cara membaca Al-Quran kita telah sesuai dengan cara membaca Al-Qurannya Rasulullah SAW.

Ketiga, Rasulullah selalu berhenti sejenak di setiap ayat. Rasulullah tidak memaksakan diri saat membaca untuk menerobos bacaan satu ayat dengan ayat yang lainnya dan tidak berhenti ketika ayat tersebut habis. Sebagaimana hadits Riwayat Ummu Salamah ra. Rasulullah memotong bacaannya ayat per ayat. “Beliau membaca ayat ‘Alhamdulillah raabil alamin’ (surah al-fatihah), lalu berhenti. Kemudian beliau membaca ‘Arrahmanirrahim’, lalu berhenti lagi. Setelah itu, beliau membaca ayat ‘Maliki yaumiddin,” kata Ummu Salamah ra.

Keempat, Rasulullah SAW terkadang membaca Al-Quran dengan suara lantang (Jahr), kadang dengan suara lirih. Sahabat Abu Qais pernah bertanya kepada Sayyidina Aisyah perihal cara membaca Al-Qurannya Rasulullah. Sayyidina Aisyah menjawab bahwa Rasulullah SAW terkadang membaca Al-Quran dengan surah lirih dan terkadang dengan suara nyaring. Seperti saat persitiwa Fathu Makkah Rasulullah di atas untanya membaca Surah Al-Fath dengan suara lantang dan menggema. Sehingga semua orang yang ada disekitarnya mendengar bacaan Rasulullah.

Kelima, membaca Al-Quran dengan nada atau suara yang indah. Al-Bara bin Azib menyaksikan bahwa Rasulullah membaca Al-Quran dengan suara merdu. Kesaksian Al-Bara tersebut dimuat dalam hadits Riwayat Bukhari dan Muslim. Pada saat itu, Al-Bara sedang melaksankan shalat isya bersama Rasulullah. Al-Bara takjub dengan suara merdu Rasulullah ketika membaca surah At-Tin. “Aku belum pernah mendengar seorang pun yang suaranya lebih merdu dari suara baginda (Rasulullah),” Kata Al-Bara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *