Kita Berdoa, Allah yang Kabulkan!

Kita Berdoa, Allah yang Kabulkan!

Seorang muslim berdoa menandakan dirinya sebagai seorang hamba, dan juga kita sendiri membutuhkan doa tersebut dan allah menyukai hambanya yang senantiasa berdoa. Allah swt tidak membatasi hambanya untuk berdoa, tapi perlu memahami tata cara doa yang baik dan benar. Doa itu memohon, mengharap kepada allah swt terhadap sesuatu yang diinginkan hati dengan harapan doa tersebut dikabulkan oleh allah swt.

Doa merupakan senjata kaum muslimin, dengan doa berarti melibatkan allah, maka siapa yang rugi bila menghadirkan Allah swt dalam segala sesuatu? Namun, Seberapa besar keyakinan kita bahwa doa akan dikabulkan? Apakah sebatas doa atau perlu diiringi dengan amal lainnya?

Sebuah Kisah Ibnu Hambal insyaallah mampu menjawab semua itu. Suatu hari Ibnu Hambal memiliki keinginan besar untuk pergi ke kota Baghdad, sepanjang jalan Ibnu Hambal tidak mengetahui maksud dan tujuan perjalannya, tapi hatinya terus ingin segera ke kota Baghdad. Di siang hari ibnu hambal tiba di kota Bahgdad, ia berdiam diri di dalam masjid memikirkan yang diinginkan oleh hatinya mengunjungi kota Bahgdad. Hingga malam hari tiba tak kunjung menemui jawaban, hingga ibnu hambal diusir dari masjid.

Di depan masjid Ibnu Hambal bertemu seorang penjual roti dan menawarkan tempat tinggal. Imam Ibnu Hambal terus memperhatikan si Penjual roti dari berjalan menuju rumah dan membuat roti, dijumpai bibirnya terus berdizikir kepada allah swt. Ibnu Hambal pun penasaran dan bertanya “apa yang kau peroleh dari lisanmu yang senantiasa berdikir?” “tak ada doa satupun yang aku panjatkan selain Allah swt mengabulkan doaku, hanya satu yang belum diijabah oleh Allah swt” tegas penjual roti. “apa itu?” tanya Ibnu Hambal “aku sangat cinta dan ingin bertemu dengan Ibnu Hambal” harap penjual roti.

Mendengar keinginan penjual roti tersebut, membuat Ibnu Hambal terkejut. Ternyata perjalanan jauh ke Kota Baghdad hanya untuk mengabulkan doa seorang penjual roti yang cinta dan ingin berjumpa dengan dirinya. Ibnu Hambal pun menangis terharu dan memeluk si penjual roti tersebut.

Kita perhatikan pernyataan si penjual roti tersebut, ia meyakini semua doa pasti dikabulkan oleh allah. Apabila doanya belum terwujud, ia berpandapat bahwa allah belum mengabulkannya, yang bukan berarti Allah swt tidak mengabulkan doanya. Kemudian si penjual roti memiliki amalan khusus yang istiqomah, dengan amalan tersebut menyebabkan doanya mudah dikabulkan oleh Allah swt.

Maka doa sebagai tanda kehambaan, amalan atau usaha sebagai tanda kesungguhan, Allah swt pun akan mudah mengabulkan segala doa kita. Karena doa ada yang disegerakan terkabulnya, tertunda dan diganti dengan kebaikan-kebaikan di akhirat kelak. Tidak akan rugi seorang hamba yang berdoa, berlimpah keuntungan dan kebaikan akan selalu diperoleh seorang hamba. KITA YANG BERDOA, ALLAH YANG KABULKAN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *